Siapa Dia?

Seorang yang baru (belum lama ku kenal) ini membuat hati ku diketuk olehnya sehingga terbukalah pintu hatiku untuknya. Berawal dari sebuah situs yang bernama friendster aku berkenalan olehnya, tidak disangka ternyata dia adalah sepupu dari teman sekelasku waktu itu. Tempat asal temanku itu tidak jauh dari tempat nenekku (satu kecamatan).

Setelah aku bergabung dengan facebook, friendster pun sudah mulai aku kurangi, jika online aku lebih sering ke facebook dibandingkan dengan friendster. Itu karena di facebook aku bisa chat sama teman yang sedang online. Dan setelah aku mulai paham (bisa) dalam menggunakan facebook akhirnya dia pun aku ajak untuk bergabung dengan facebook. Begitulah awal aku mengenalinya.

Ingin rasanya aku bertemu langsung dengannya, tapi tempat dia berada lumayan jauh dari tempat asalku. Sehingga aku hanya bisa lewat email facebook atau chat jika ingin berbincang-bincang. Ada kesempatan ketika aku dan dua temanku mengajukan proposal permohonan magang ke suatu perusahaan elektronik yang tidak terlalu jauh dengan tempat dia berada. Dan aku gunakan ponsel ku untuk membuka facebook dan mengirim email ke dia (karena saat itu aku belum mengetahui nomor ponselnya) aku suruh dia sms ke nomor ponsel ku tapi ternyata kesempatan itu tidak juga meluangkan hasil untuk bertemu dengannya. Padahal aku juga berkunjung ke tempat adik orangtua temanku (pakle-nya) yang tidak begitu jauh dari tempat dia berada.

Diakhir kepergianku dari tempat pakle temanku, aku sempat berkunjung ke tempat wisata yang begitu banyak pohon dan tanam-tanaman. Ketika perjalanan kesana mini bus (kalo ditempat asalku disebut tiger) melewati kampus dia. Sebelum masuk ke tempat wisata ingin rasanya aku berkunjung ke kampusnya tapi hal itu pun belum tentu aku dapat bertemu dengannya.

Ingin rasanya dia ku jadikan sebagai ………, tapi tidak mungkin aku lakukan karena belum lama aku mengenalinya. Dan itupun belum tentu aku diterima olehnya. Karena aku tidak ingin hatiku sakit ketika mendengar jawaban darinya. Apakah aku harus mengatakan yang sesungguhnya tentang perasaanku ini? Tidak, aku tidak ingin mengatakan perasaanku kepadanya, mungkin lebih baik dia mengetahuinya sendiri tanpa ku beri tahu.

Pos ini dipublikasikan di Ceritaku. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s